Rabu, 17 Februari 2010

HARGA ORTHOTIC DAN PROSTHETIC

I. PROSTHETIC

1. Hip Prothese ( Tilting Table ).............................. Rp. 12.000.000,--

2. Atas Lutut ( AL ) ............................................... Rp. 7.000.000,--

3. Bawah Lutut Model Konvensional...................... Rp. 6.500.000,--

4. Bawah Lutut Model PTB.................................... Rp. 5.500.000,--

5. Syme Prothese................................................... Rp. 4.500.000,--

6. Copart Prosthetic............................................... Rp. 3.000.000,--

II. PROTHESE TANGAN

1. Atas Siku ( Cosmetic )........................................ Rp. 6.500.000,--

2. Bawah Siku ....................................................... Rp. 5.000.000,--

III. ORTHOTIC

1. Melwauke Brace................................................ Rp. 7.000.000,--

2. Kursi Roda ( Tiga Roda )................................... Rp. 3.500.000,--

3. Kursi Roda ( Empat Roda )................................ Rp. 3.000.000,--

4. Long Leg Brace.................................................. Rp. 2.750.000,--

5. Short Leg Brace................................................. Rp. 2.250.000,--

6. Brace Prothese................................................... Rp. 3.000.000,--

7. Back Up Splint................................................... Rp. 2.250.000,--

8. Cock Up Splint.................................................. Rp. 1.750.000,--

9. Two Raising Brace............................................. Rp. 1.750.000,--

10. Dannis Brown..................................................... Rp. 1.750.000,--

11. Corset Kulit........................................................ Rp. 5.500.000,--

12. Tongkat Acshiler/ Stainless/ BH.......................... Rp. 250.000,--

13. Tongkat Canadian.............................................. Rp. 200.000,--

14. Tree Foot........................................................... Rp. 350.000,--

15. Sepatu Orthopaedi Model Laras/ psng................ Rp. 750.000,--

16. Sepatu Orthopaedi / psng................................... Rp. 600.000,--

17. Walker............................................................... Rp. 1.500.000,--

Harga per tanggal 18 Februari 2010

( Harga sewaktu waktu berubah, tergantung harga bahan )

Contoh gambar menyusul

Bagi yang membutuhkan harap hubungi : PPCI Sul. Sel. { Bambang PSK ( HP. 081327661970 )}

Kamis, 04 Februari 2010

31 Januari 2010 ~ Peringatan Hari Kusta Sedunia di Makassar

SELAMAT MEMPERINGATI HARI KUSTA SEDUNIA UNTUK REKAN2 KAMI PENYANDANG KUSTA. SELAMAT ATAS PERINGATAN HARI KUSTA SEDUNIA YANG BERJALAN LANCAR.
SELAMAT UNTUK PERMATA DAN YTLI.






Telah berlangsung kegiatan Peringatan Hari Kusta Sedunia yang dilaksanakan di depan DPRD Kota Makassar pada tgl. 31 Januari 2010 jam 7.00 pagi diikuti oleh lebih kurang 700 orang baik dari mantan kusta maupun mitra2 nya. Kegiatan ini disponsori oleh YTLI dibawah koordinasi sdr. Doddy Tumanduk, SH. dan dilaksanakan oleh PERMATA Sul. Sel. Hadir dalam kegiatan ini a.l. Kadis Kesehatan Kota Makassar, Kadis. Sosial Kota Makassar dll. ( bpsk )

11 Januari 2010 ~ Rekaman Sipakatau di LPP TVRI SULSEL



Seperti biasa, kembali PPCI Sul. Sel. melakukan rekaman Program Sipakatau di LPP TVRI SULSEL. Kali ini melakukan rekaman 2 paket. Paket pertama diisi oleh rekan2 dari PERMATA , Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Dinas Sosial Kota Makassar mengetengahkan Sosialisasi Pemberdayaan Mantan Kusta di Masyarakat. Dari PERMATA diwakili oleh sdr. Al Kadri dan dari Dinas Sosial Kota Makassar oleh Drs. Ibrahim Saleh, M.M.
Sedangkan paket ke 2 diisi oleh PPCI Sul. Sel. sendiri dengan topik : Pemberdayaan penyandang cacat melalui organisasi sosial penyandang cacat. Sebagai narasumber adalah sdr. Bambang Permadi dan Makmur Kam. Untuk pembuka dan penutup acara diisi oleh DIEF band dengan vokalis sdr. Fandi Dawenan dan Harijah. ( bpsk )

Rabu, 30 Desember 2009

MUSDA KE IV PPCI PROPINSI SULAWESI SELATAN




Telah berlangsung Musyawarah Daerah ke IV Persatuan Penyandang Cacat Indonesia Propinsi Sulawesi Selatan di Hotel Sabindo Kabupaten Enrekang pada tanggal 18 ~ 20 Desember 2009. Diikuti oleh lebih kurang 83 orang dari 6 DPC PPCI Kabupaten, 2 Orsos Penyandang Cacat, Panitia Daerah dan Pengurus DPD PPCI Sulawesi Selatan. DPC PPCI yang ikut adalah DPC PPCI Kab. Selayar, DPC PPCI Kab. Jeneponto, DPC PPCI Kab. Takalar, DPC PPCI Kab. Enrekang, DPC PPCI Kab. Pinrang dan DPC PPCI Kab. Sidrap. Sedangkan Orsos yang ikut adalah DPD HWPCI Sulawesi Selatan dan DPD PERTUNI Sulawesi Selatan. Terpilih dalam Musda tsb. sebagai Ketua adalah sdr. Bambang Permadi Surya Kelana dan Ketua Dewan Pertimbangan adalah sdr. Drs. Darusman. ( bpsk )
INNALILLAHI WAINNAILAIHI ROJIUN
Kami keluarga besar
PERSATUAN PENYANDANG CACAT INDONESIA PROPINSI SULAWESI SELATAN
TURUT BERBELA SUNGKAWA ATAS WAFATNYA
BAPAK K.H. ABDURRAHMAN WAHID ( MANTAN PRESIDEN R.I. KE IV ) pada tanggal 30 Desember 2009 jam 18.45 WIB

SELAMAT JALAN GUS DUR... BAPAK BANGSA.. DEMOKRAT SEJATI..
MANTAN PRESIDEN R.I. KE IV.

SEMOGA AMAL IBADAHNYA DITERIMA ALLAH SWT. AMIEN



KELUARGA BESAR
PERSATUAN PENYANDANG CACAT INDONESIA
PROPINSI SULAWESI SELATAN

Bambang Permadi Surya Kelana
Ketua

Minggu, 13 Desember 2009

TUNA RUNGU

Apa yang dimaksud dengan Tunarungu?

Tunarungu adalah satu gejala dimana seseorang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal.

Apa ciri-ciri seseorang mengalam gangguan pendengaran atau tunarungu?

1. Secara nyata tidak mampu mendengar.
2. Terlambat perkembangan bahasa.
3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi.
4. Kurang/tidak tanggap bila diajak berbicara.
5. Ucapan kata tidak jelas.
6. Kualitas suara aneh/monoton.
7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar.
8. Banyak perhatian terhadap getaran.
9. Keluar cairan ‘nanah’ dari kedua telinga.

Penyebab seseorang menjadi tunarungu

Rubella (yang oleh masyarakat umum dikenal dengan nama campak) sering dipandang sebagai penyakit ringan. Orang dewasa maupun anak-anak biasanya tidak akan dibahayakan secara permanen oleh penyakit ini, tetapi bayi yang masih dalam kandungan dapat sangat terpengaruh. Jika seorang ibu yang sedang mengandung mengidap penyakit ini pada masa tiga bulan pertama kkehamilannya, dia sendiri mungkin tidak akan merasa sakit sama sekali, tetapi penyakit tersebut dapat berdampak kepada bayi di dalam kandungannya melalui placenta, dengan akibat yang serius. Banyak di antara bayi-bayi itu lahir tunagrahita, dan mereka juga dapat mengalami kecacatan fisik. Penyakit jantung, kesulitan pernafasan, gangguan penglihatan atau gangguan pendengaran sering dialami oleh bayi-bayi ini (Finkelstein, 1994). Oleh karena itu, berbagai upaya pencegahan seyogyanya dilakukan untuk mengurangi ancaman terha­dap janin. Anak­-anak--terutama pe­rempuan--sebaiknya divaksi­nasi agar mereka mengembangkan daya tahan terhadap rubella di kemudian hari. Wanita yang sedang hamil muda harus mengh­indari kontak dengan orang yang sedang terkena penyakit ini.Deteksi Dini KetunarunguanEasterbrooks (1997) mengemukakan tanda-tanda ketunarunguan sebagai berikut. Pada bayi atau anak kecil, tanda-tanda ketunarunguan itu mencakup tidak adanya perhatian atau adanya perhatian yang tidak konsisten, tidak adanya atau kurangnya interaksi vokal, dan tidak adanya atau sangat lambatnya perkembangan bahasa, terutama yang terkait dengan kata-kata yang diakhiri konsonan tak letup seperti t, ‑ng, atau ‑s. Pada anak-anak usia sekolah, tanda-tanda ketunarunguan itu mencakup tingginya tingkat frustrasi terhadap sekolah dan orang lain, rendahnya atau sangat menurunnya nilai-nilai pelajarannya, atau berubahnya pola perhatiannya. Pada orang dewasa, tanda-tanda tersebut dapat berupa keluhan bahwa orang lain bergumam padahal berbicara normal, atau menyalakan peralatan seperti radio atau TV terlalu keras. Klasifikasi dan Jenis Ketunarunguan
1. Jenis Ketunarunguan berdasarkan lokasi gangguannyaEasterbrooks (1997) mengemukakan bahwa terdapat tiga jenis utama ketunarunguan menurut lokasi ganguannya:
1) Conductive loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat gangguan pada bagian luar atau tengah telinga yang menghambat dihantarkannya gelombang bunyi ke bagian dalam telinga.
2) Sensorineural loss, yaitu ketunarunguan yang terjadi bila terdapat kerusakan pada bagian dalam telinga atau syaraf auditer yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi ke otak. (Ketunarunguan Andi tampaknya termasuk ke dalam kategori ini.)
3) Central auditory processing disorder, yaitu gangguan pada sistem syaraf pusat proses auditer yang mengakibatkan individu mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya meskipun tidak ada gangguan yang spesifik pada telinganya itu sendiri. Anak yang mengalami gangguan pusat pemerosesan auditer ini mungkin memiliki pendengaran yang normal bila diukur dengan audiometer, tetapi mereka sering mengalami kesulitan memahami apa yang didengarnya.
2. Jenis Ketunarunguan berdasarkan tingkat keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi.Berdasarkan tingkat keberfungsian telinga dalam mendengar bunyi, Ashman dan Elkins (1994) mengklasifikasikan ketunarunguan ke dalam empat kategori, yaitu:
1) Ketunarunguan ringan (mild hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 20-40 dB (desibel). Mereka sering tidak menyadari bahwa sedang diajak bicara, mengalami sedikit kesulitan dalam percakapan.
2) Ketunarunguan sedang (moderate hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang masih dapat mendengar bunyi dengan intensitas 40-65 dB. Mereka mengalami kesulitan dalam percakapan tanpa memperhatikan wajah pembicara, sulit mendengar dari kejauhan atau dalam suasana gaduh, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar (hearing aid).
3) Ketunarunguan berat (severe hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 65-95 dB. Mereka sedikit memahami percakapan pembicara bila memperhatikan wajah pembicara dengan suara keras, tetapi percakapan normal praktis tidak mungkin dilakukannya, tetapi dapat terbantu dengan alat bantu dengar.
4) Ketunarunguan berat sekali (profound hearing impairment), yaitu kondisi di mana orang hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas 95 dB atau lebih keras. Mendengar percakapan normal tidak mungkin baginya, sehingga dia sangat tergantung pada komunikasi visual. Sejauh tertentu, ada yang dapat terbantu dengan alat bantu dengar tertentu dengan kekuatan yang sangat tinggi (superpower). Survey tahun 1981 di Australia menemukan bahwa 59% dari populasi tunarungu menyandang ketunarunguan ringan, 11% sedang, 20% berat, dan 10% tidak dapat dipastikan (Cameron, 1982, dalam Ashman dan Elkins, 1994). Perlu dijelaskan bahwa decibel (disingkat dB) adalah satuan ukuran intensitas bunyi. Istilah ini diambil dari nama pencipta telepon, Graham Bel, yang istrinya tunarungu, dan dia tertarik pada bidang ketunarunguan dan pendidikan bagi tunarungu. Satu decibel adalah 0,1 Bel.Bagi para fisikawan, decibel merupakan ukuran tekanan bunyi, yaitu tekanan yang didesakkan oleh suatu gelombang bunyi yang melintasi udara. Dalam fisika, 0 db sama dengan tingkat tekanan yang mengakibatkan gerakan molekul udara dalam keadaan udara diam, yang hanya dapat terdeteksi dengan menggunakan instrumen fisika, dan tidak akan terdengar oleh telinga manusia. Oleh karena itu, di dalam audiologi ditetapkan tingkat 0 yang berbeda, yang disebut 0 dB klinis atau 0 audiometrik. Nol inilah yang tertera dalam audiogram, yang merupakan grafik tingkat ketunarunguan. Nol audiometrik adalah tingkat intensitas bunyi terendah yang dapat terdeteksi oleh telinga orang rata-rata dengan telinga yang sehat pada frekuensi 1000 Hz (Ashman & Elkins, 1994). Metode dan Pendekatan Pengajaran Bahasa bagi Anak TunarunguPerdebatan tentang cara terbaik untuk mengajar anak tunarungu berkomunikasi telah marak sejak awal abad ke-16 (Winefield, 1987). Perdebatan ini masih berlangsung, tetapi kini semakin banyak ahli yang berpendapat bahwa tidak ada satu sistem komunikasi yang baik untuk semua anak (Easterbrooks, 1997). Pilihan sistem komunikasi harus ditetapkan atas dasar individual, dengan mempertimbangkan karakteristik anak, sumber-sumber yang tersedia, dan komitmen keluarga anak terhadap metode komunikasi tertentu.Metode Pengajaran Bahasa bagi Anak TunarunguTerdapat tiga metode utama individu tunarungu belajar bahasa, yaitu dengan membaca ujaran, melalui pendengaran, dan dengan komunikasi manual, atau dengan kombinasi ketiga cara tersebut. 1) Belajar Bahasa Melalui Membaca Ujaran (Speechreading)Orang dapat memahami pembicaraan orang lain dengan "membaca" ujarannya melalui gerakan bibirnya. Akan tetapi, hanya sekitar 50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir (Berger, 1972). Di antara 50% lainnya, sebagian dibuat di belakang bibir yang tertutup atau jauh di bagian belakang mulut sehingga tidak kelihatan, atau ada juga bunyi ujaran yang pada bibir tampak sama sehingga pembaca bibir tidak dapat memastikan bunyi apa yang dilihatnya. Hal ini sangat menyulitkan bagi mereka yang ketunarunguannya terjadi pada masa prabahasa. Seseorang dapat menjadi pembaca ujaran yang baik bila ditopang oleh pengetahuan yang baik tentang struktur bahasa sehingga dapat membuat dugaan yang tepat mengenai bunyi-bunyi yang "tersembunyi" itu. Jadi, orang tunarungu yang bahasanya normal biasanya merupakan pembaca ujaran yang lebih baik daripada tunarungu prabahasa, dan bahkan terdapat bukti bahwa orang non-tunarungu tanpa latihan dapat membaca bibir lebih baik daripada orang tunarungu yang terpaksa harus bergantung pada cara ini (Ashman & Elkins, 1994). Kelemahan sistem baca ujaran ini dapat diatasi bila digabung dengan sistem cued speech (isyarat ujaran). Cued Speech adalah isyarat gerakan tangan untuk melengkapi membaca ujaran (speechreading).Delapan bentuk tangan yang menggambarkan kelompok-kelompok konsonan diletakkan pada empat posisi di sekitar wajah yang menunjukkan kelompok-kelompok bunyi vokal. Digabungkan dengan gerakan alami bibir pada saat berbicara, isyarat-isyarat ini membuat bahasa lisan menjadi lebih tampak (Caldwell, 1997). Cued Speech dikembangkan oleh R. Orin Cornett, Ph.D. di Gallaudet University pada tahun 1965‑66. Isyarat ini dikembangkan sebagai respon terhadap laporan penelitian pemerintah federal AS yang tidak puas dengan tingkat melek huruf di kalangan tunarungu lulusan sekolah menengah. Tujuan dari pengembangan komunikasi isyarat ini adalah untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak tunarungu dan memberi mereka fondasi untuk keterampilan membaca dan menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Cued Speech telah diadaptasikan ke sekitar 60 bahasa dan dialek. Keuntungan dari sistem isyarat ini adalah mudah dipelajari (hanya dalam waktu 18 jam), dapat dipergunakan untuk mengisyaratkan segala macam kata (termasuk kata-kata prokem) maupun bunyi-bunyi non-bahasa. Anak tunarungu yang tumbuh dengan menggunakan cued speech ini mampu membaca dan menulis setara dengan teman-teman sekelasnya yang non-tunarungu (Wandel, 1989 dalam Caldwell, 1997). 2) Belajar Bahasa Melalui PendengaranAshman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa individu tunarungu dari semua tingkat ketunarunguan dapat memperoleh manfaat dari alat bantu dengar tertentu. Alat bantu dengar yang telah terbukti efektif bagi jenis ketunarunguan sensorineural dengan tingkat yang berat sekali adalah cochlear implant. Cochlear implant adalah prostesis alat pendengaran yang terdiri dari dua komponen, yaitu komponen eksternal (mikropon dan speech processor) yang dipakai oleh pengguna, dan komponen internal (rangkaian elektroda yang melalui pembedahan dimasukkan ke dalam cochlea (ujung organ pendengaran) di telinga bagian dalam. Komponen eksternal dan internal tersebut dihubungkan secara elektrik. Prostesis cochlear implant dirancang untuk menciptakan rangsangan pendengaran dengan langsung memberikan stimulasi elektrik pada syaraf pendengaran (Laughton, 1997). Akan tetapi, meskipun dalam lingkungan auditer terbaik, jumlah bunyi ujaran yang dapat dikenali secara cukup baik oleh orang dengan klasifikasi ketunarunguan berat untuk memungkinkannya memperoleh gambaran yang lengkap tentang struktur sintaksis dan fonologi bahasa itu terbatas. Tetapi ini tidak berarti bahwa penyandang ketunarunguan yang berat sekali tidak dapat memperoleh manfaat dari bunyi yang diamplifikasi dengan alat bantu dengar. Yang menjadi masalah besar dalam hal ini adalah bahwa individu tunarungu jarang dapat mendengarkan bunyi ujaran dalam kondisi optimal. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan individu tunarungu tidak dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari alat bantu dengar yang dipergunakannya. Di samping itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar alat bantu dengar yang dipergunakan individu tunarungu itu tidak berfungsi dengan baik akibat kehabisan batrai dan earmould yang tidak cocok. 3) Belajar Bahasa secara ManualSecara alami, individu tunarungu cenderung mengembangkan cara komunikasi manual atau bahasa isyarat. Untuk tujuan universalitas, berbagai negara telah mengembangkan bahasa isyarat yang dibakukan secara nasional. Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa komunikasi manual dengan bahasa isyarat yang baku memberikan gambaran lengkap tentang bahasa kepada tunarungu, sehingga mereka perlu mempelajarinya dengan baik. Kerugian penggunaan bahasa isyarat ini adalah bahwa para penggunanya cenderung membentuk masyarakat yang eksklusif.Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa bagi Anak TunarunguPengajaran bahasa secara terprogram bagi anak tunarungu harus dimulai sedini mungkin bila kita mengharapkan tingkat keberhasilan yang optimal. Terdapat dua pendekatan dalam pengajaran bahasa kepada anak tunarungu secara dini, yaitu pendekatan auditori-verbal dan auditori-oral.1. Pendekatan Auditori‑verbalPendekatan auditori-verbal bertujuan agar anak tunarungu tumbuh dalam lingkungan hidup dan belajar yang memungkinkanya menjadi warga yang mandiri, partisipatif dan kontributif dalam masyarakat inklusif. Falsafah auditori-verbal mendukung hak azazi manusia yang mendasar bahwa anak penyandang semua tingkat ketunarunguan berhak atas kesempatan untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan menggunakan komunikasi verbal di dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Pendekatan auditori‑verbal didasarkan atas prinsip mendasar bahwa penggunaan amplifikasi memungkinkan anak belajar mendengarkan, memproses bahasa verbal, dan berbicara. Opsi auditori‑verbal merupakan strategi intervensi dini, bukan prinsip-prinsip yang harus dijalankan dalam pengajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk mengajarkan prinsip-prinsip auditori‑verbal kepada orang tua yang mempunyai bayi tunarungu (Goldberg, 1997). Prinsip-prinsip praktek auditori‑verbal itu adalah sebagai berikut:
o Berusaha sedini mungkin mengidentifikasi ketunarunguan pada anak, idealnya di klinik perawatan bayi.
o Memberikan perlakuan medis terbaik dan teknologi amplifikasi bunyi kepada anak tunarungu sedini mungkin.
o Membantu anak memahami makna setiap bunyi yang didengarnya, dan mengajari orang tuanya cara membuat agar setiap bunyi bermakna bagi anaknya sepanjang hari.
o Membantu anak belajar merespon dan menggunakan bunyi sebagaimana yang dilakukan oleh anak yang berpendengaran normal.
o Menggunakan orang tua anak sebagai model utama untuk belajar ujaran dan komunikasi lisan.
o Berusaha membantu anak mengembangkan sistem auditori dalam (inner auditory system) sehingga dia menyadari suaranya sendiri dan akan berusaha mencocokkan apa yang diucapkannnya dengan apa yang didengarnya.
o Memahami bagaimana anak yang berpendengaran normal mengembangkan kesadaran bunyi, pendengaran, bahasa, dan pemahaman, dan menggunakan pengetahuan ini untuk membantu anak tunarungu mempelajari keterampilan baru.
o Mengamati dan mengevaluasi perkembangan anak dalam semua bidang.
o Mengubah program latihan bagi anak bila muncul kebutuhan baru.
o Membantu anak tunarungu berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan maupun sosial bersama-sama dengan anak-anak yang berpendengaran normal dengan memberikan dukungan kepadanya di kelas reguler.
Hasil penelitian terhadap sejumlah tamatan program auditori‑verbal di Amerika Serikat dan Kanada (Goldberg & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997) menunjukkan bahwa mayoritas responden terintegrasi ke dalam lingkungan belajar dan lingkungan hidup "reguler". Kebanyakan dari mereka bersekolah di sekolah biasa di dalam lingkungannya, masuk ke lembaga pendidikan pasca sekolah menengah yang tidak dirancang khusus bagi tunarungu, dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Di samping itu, keterampilan membacanya setara atau lebih baik daripada anak-anak berpendengaran normal (Robertson & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997).Pendekatan Auditori‑OralPendekatan auditori‑oral didasarkan atas premis mendasar bahwa memperoleh kompetensi dalam bahasa lisan, baik secara reseptif maupun ekspresif, merupakan tujuan yang realistis bagi anak tunarungu. Kemampuan ini akan berkembang dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan di mana bahasa lisan dipergunakan secara eksklusif. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan rumah dan sekolah (Stone, 1997).
Elemen-elemen pendekatan auditori‑oral yang sangat penting untuk menjamin keberhasilannya mencakup:
o Keterlibatan orang tua. Untuk memperoleh bahasa dan ujaran yang efektif menuntut peran aktif orang tua dalam pendidikan bagi anaknya.
o Upaya intervensi dini yang berfokus pada pendidikan bagi orang tua untuk menjadi partner komunikasi yang efektif.
o Upaya-upaya di dalam kelas untuk mendukung keterlibatan anak tunarungu dalam kegiatan kelas.
o Amplifikasi yang tepat. Alat bantu dengar merupakan pilihan utama, tetapi bila tidak efektif, penggunaan cochlear implant merupakan opsi yang memungkinkan.
Mengajari anak mengunakan sisa pendengaran yang masih dimilikinya untuk mengembangkan perolehan bahasa lisan merupakan hal yang mendasar bagi pendekatan auditori‑oral. Meskipun dimulai sebelum anak masuk sekolah, intervensi oral berlanjut di kelas. Anak diajari keterampilan mendengarkan yang terdiri dari empat tingkatan, yaitu deteksi, diskriminasi, identifikasi, dan pemahaman bunyi. Karena tujuan pengembangan keterampilan mendengarkan itu adalah untuk mengembangkan kompetensi bahasa lisan, maka bunyi ujaran (speech sounds) merupakan stimulus utama yang dipergunakan dalam kegiatan latihan mendengarkan itu. Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik (mengembangkan keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat). Pengajaran bahasa dilaksanakan secara naturalistik dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada diri anak, tidak dalam setting didaktik. Pada masa prasekolah, pengajaran bagi anak dan pengasuhnya dilakukan secara individual, tetapi pada masa sekolah pengajaran dilaksanakan dalam setting kelas inklusif atau dalam kelas khusus bagi tunarungu di sekolah reguler. Setting pengajaran ini tergantung pada keterampilan sosial, komunikasi dan belajar anak. Keuntungan utama pendekatan auditori-oral ini adalah bahwa anak mampu berkomunikasi secara langsung dengan berbagai macam individu, yang pada gilirannya dapat memberi anak berbagai kemungkinan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Geers dan Moog (1989 dalam Stone, 1997) melaporkan bahwa 88% dari 100 siswa tunarungu usia 16 dan 17 tahun yang ditelitinya memiliki kecakapan berbahasa lisan dan memiliki tingkat keterpahaman ujaran yang tinggi. Kemampuan rata-rata membacanya adalah pada tingkatan usia 13 hingga 14 tahun, yang hampir dua kali lipat rata-rata kemampuan baca seluruh populasi anak tunarungu di Amerika Serikat.

Materi diadopsi dari :Handsout – Studikasus Tunarungu, Didi Tarsidi dan Permanarian SomadUniversitas Pendidikan Indonesia (UPI)

AUTISME

INFORMASI MENGENAI AUTISME DAN PENDIDIKANNYA

PERISTILAHAN

Autism = autisme yaitu nama gangguan perkembangan komunikasi, sosial, prilaku pada anak (Leo Kanner & Asperger, 1943).
Autist = autis : Anak yang mengalami ganguan autisme.
Autistic child = anak autistik : Keadaan anak yang mengalami gangguan autisme.
APA AUTISME ITU?
Secara harfiah autisme berasal dari kata autos =diri dan isme= paham/aliran.
American Psych: autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri. Gangguan ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku “Sumber dari Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austistik”. (American Psychiatic Association 2000)
Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang bersifat pervasive (inco) yaitu meliputi gangguan kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan gangguan interaksi sosial (Mardiyatmi ‘ 2000).
Gangguan autisme terjadi pada masa perkembangan sebelum usia 36 bulan “Sumber dari Pedoman Penggolongan Diagnotik Gangguan Jiwa” (PPDGJ III)
Autisme dapat terjadi pada anak, tanpa perbedaan ras, etnik, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan.
Privalensi Autisme diperkirakan 1 per 150 kelahiran. Menurut penelitian di RSCM selama tahun 2000 tercatat jumlah pasien baru Autisme sebanyak 103 kasus. Dari privalensi tersebut diperkirakan anak laki-laki autistik lebih banyak dibanding perempuan (4:1).
APA TANDA-TANDA ANAK AUTISTIK?
Anak autistik menunjukkan gangguan–gangguan dalam aspek-aspek berikut ini: (sering dapat diamati sehari-hari)
Bagaimana Anak Austistik berkomunikasi?

1. Sebagian tidak berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal.
2. Tidak mampu mengekpresikan perasaan maupun keinginan
3. Sukar memahami kata-kata bahasa orang lain dan sebaliknya kata-kata/bahasa mereka sukar dipahami maknanya..
4. Berbicara sangat lambat, monoton, atau tidak berbicara sama sekali.
5. Kadang-kadang mengeluarkan suara-suara aneh.
6. Berbicara tetapi bukan untuk berkomunikasi.
7. Suka bergumam.
8. Dapat menghafal kata-kata atau nyanyian tanpa memahami arti dan konteksnya.
9. Perkembangan bahasa sangat lambat bahkan sering tidak tampak.
10. Komunikasi terkadang dilakukan dengan cara menarik-narik tangan orang lain untuk menyampaikan keinginannya.

Bagaimana anak austistik bergaul?

1. Tidak ada kontak mata
2. Menyembunyikan wajah
3. Menghindar bertemu dengan orang lain
4. Menundukkan kepala
5. Membuang muka
6. Hanya mau bersama dengan ibu/keluarganya
7. Acuh tak acuh, interaksi satu arah.
8. Kurang tanggap isyarat sosial.
9. Lebih suka menyendiri.
10. Tidak tertarik untuk bersama teman.
11. Tidak tanggap / empati terhadap reaksi orang lain atas perbuatan sendiri.

Bagaimana anak autistik membawakan diri ?

1. Menarik diri
2. Seolah-olah tidak mendengar (acuk tak acuh/tambeng)
3. Dapat melakukan perintah tanpa respon bicara
4. Asik berbaring atau bermain sendiri selama berjam-jam.
5. Lebih senang menyendiri. .
6. Hidup dalam alam khayal (bengong)
7. Konsentrasi kosong
8.Menggigit-gigit benda
9. Menyakiti diri sendiri
10. Sering tidak diduga-duga memukul teman.
11. Menyenangi hanya satu/terbatas jenis benda mainan
12. Sering menangis/tertawa tanpa alasan
13. Bermasalah tidur/tertawa di malam hari
14. Memukul-mukul benda (meja, kursi)
15. Melakukan sesuatu berulang-ulang (menggerak-gerakkan tangan, mengangguk-angguk dsb).
16. Kurang tertarik pada perubahan dari rutinitas

Bagaimana kepekaan sensori integratifnya anak autistik ?

1. Sangat sensitif terhadap sentuhan ,seperti tidak suka dipeluk.
2. Sensitif terhadap suara-suara tertentu
3. Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda.
4. Sangat sensitif atau sebaliknya, tidak sensitif terhadap rasa sakit.

Bagaimana Pola Bermain autistik anak?

1. Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.
2. Kurang/tidak kreatif dan imajinatif
3. Tidak bermain sesuai fungsi mainan
4. Menyenangi benda-benda berputar, sperti kipas angin roda sepeda, dan lain-lain.
5. Sering terpaku pada benda-benda tertentu

Bagaimana keadaan emosi anak autistik ?

1. Sering marah tanpa alasan.
2. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum )bila keinginan tidak dipenuhi.
3. Tiba-tiba tertawa terbahak-bahak atau menangis tanpa alasan
4. Kadang-kadang menyerang orang lain tanpa diduga-duga.

Bagaimana kondisi kognitif anak autistik ?

Menurut Penelitian di Virginia University di Amerika Serikat diperkirakan 75 – 80 % penyandang autis mempunyai kemampuan berpikir di bawah rata-rata/retardasi mental, sedangkan 20 % sisanya mempunyai tingkat kecerdasan normal ataupun di atas normal untuk bidang-bidang tertentu.
Sebagian kecil mempunyai daya ingat yang sangat kuat terutama yang berkaitan denga obyek visual (gambar)
Sebagian kecil memiliki kemampuan lebih pada bidang yang berkaitan dengan angka.

APA PENYEBAB AUTISME?

Sampai sekarang belum terdeteksi faktor yang menjadi penyebab tunggal timbulnya gangguan autisme. Namun demikian ada beberapa faktor yang di mungkinkan dapat menjadi penyebab timbulnya autisme. berikut:

1. Menurut Teori Psikososial
Beberapa ahli (Kanner dan Bruno Bettelhem) autisme dianggap sebagai akibat hubungan yang dingin, tidak akrab antara orang tua (ibu) dan anak. Demikian juga dikatakan, orang tua/pengasuh yang emosional, kaku, obsesif, tidak hangat bahkan dingin dapat menyebabkan anak asuhnya menjadi autistik.

2. Teori Biologis
Faktor genetic: Keluarga yang terdapat anak autistik memiliki resiko lebih tinggi dibanding populasi keluarga normal.
Pranatal, Natal dan Post Natal yaitu: Pendarahan pada kehamilan awal, obat-obatan, tangis bayi terlambat, gangguan pernapasan, anemia.
Neuro anatomi yaitu: Gangguan/disfungsi pada sel-sel otak selama dalam kandugan yang mungkin disebabkan terjadinya gangguan oksigenasi, perdarahan, atau infeksi.
Struktur dan Biokimiawi yaitu: Kelainan pada cerebellum dengan cel-sel Purkinje yang jumlahnya terlalu sedikit, padahal sel-sel purkinje mempunyai kandungan serotinin yang tinggi. Demikian juga kemungkinan tingginya kandungan dapomin atau opioid dalam darah.

3. Keracunan logam berat misalnya terjadi pada anak yang tinggal dekat tambanga batu bara, dlsb.

4. Gangguan pencernaan, pendengaran dan penglihatan. Menurut data yang ada 60 % anak autistik mempunyai sistem pencernaan kurang sempurna. Dan kemungkinan timbulnya gejala autistik karena adanya gangguan dalam pendengaran dan penglihatan.

II. APA YANG PERLU KITA LAKUKAN TERHADAP ANAK AUTISTIK USIA DINI?

Sebelum/sembari mengikuti pendidikan formal (sekolah). Anak autistik dapat dilatih melalui terapi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak antara lain:
1. Terapi Wicara: Untuk melancarkan otot-otot mulut agar dapat berbicara lebih baik.
2. Terapi Okupasi : untuk melatih motorik halus anak.
3. Terapi Bermain : untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain.
4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy) : untuk menenangkan anak melalui pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang
5. Terapi melalui makan (diet therapy) : untuk mencegah/mengurangi tingkat gangguan autisme.
6. Sensory Integration therapy : untuk melatih kepekaan dan kordinasi daya indra anak autis (pendengaran, penglihatan, perabaan)
7. Auditory Integration Therapy : untuk melatih kepekaan pendengaran anak lebih sempurna
8. Biomedical treatment/therapy : untuk perbaikan dan kebugaran kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphine, allergen, dsb)
9. Hydro Therapy : membantu anak autistik untuk melepaskan energi yang berlebihan pada diri anak melalui aktifitas di air.
10. Terapi Musik : untuk melatih auditori anak, menekan emosi, melatih kontak mata dan konsentrasi.

III. Ada Beberapa Pendekatan Pembelajaran Anak Autistik Antara Lain


1. Discrete Tial Training (DTT) : Training ini didasarkan pada Teori Lovaas yang mempergunakan pembelajaran perilaku. Dalam pembelajarannya digunakan stimulus respon atau yang dikenal dengan orperand conditioning. Dalam prakteknya guru memberikan stimulus pada anak agar anak memberi respon. Apabila perilaku anak itu baik, guru memberikan reinforcement (penguatan). Sebaliknya perilaku anak yang buruk dihilangkan melalui time out/ hukuman/kata “tidak”

2. Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Programfor Preschoolers and Parents) menggunakan stimulus respon (sama dengan DTT) tetapi anak langsung berada dalam lingkungan sosial (dengan teman-teman). Anak auitistik belajar berperilaku melalui pengamatan perilaku orang lain.

3. Floor Time merupakan teknik pembelajaran melalui kegiatan intervensi interaktif. Interaksi anak dalam hubungan dan pola keluarga merupakan kondisi penting dalam menstimulasi perkembangan dan pertumbuhan kemampuan anak dari segi kumunikasi, sosial, dan perilaku anak.

4. TEACCH (Treatment and Education for Autistic Childrent and Related Communication Handicaps) merupakan pembelajaran bagi anak dengan memperhatikan seluruh aspek layanan untuk pengembangan komunikasi anak. Pelayanan diprogramkan dari segi diagnosa, terapi/treatment, konsultasi, kerjasama, dan layanan lain yang dibutuhkan baik oleh anak maupun orangtua.


IV. BAGAIMANA MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN

Pendidikan untuk anak autistik usia sekolah bisa dilakukan di berbagai penempatan. Berbagai model antara lain:

1. Kelas transisi
Kelas ini diperuntukkan bagi anak autistik yang telah diterapi memerlukan layanan khusus termasuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadu atau struktur. Kelas transisi sedapat mungkin berada di sekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan dimodifikasi sesuai kebutuhan anak.

2. Program Pendidikan Inklusi
Program ini dilaksanakan oleh sekolah reguler yang sudah siap memberikan layanan bagi anak autistik. Untuk dapat membuka program ini sekolah harus memenuhi persyaratan antara lain:
Guru terkait telah siap menerima anak autistik
Tersedia ruang khusus (resourse room) untuk penanganan individual
Tersedia guru pembimbing khusus dan guru pendamping.
Dalam satu kelas sebaiknya tidak lebih dari 2 (dua) anak autistik.
Dan lain-lain yang dianggap perlu.

3. Program Pendidikan Terpadu
Program Pendidikan Terpadu dilaksanakan disekolah reguler. Dalam kasus/waktu tertentu, anak-anak autistik dilayani di kelas khusus untuk remedial atau layanan lain yang diperlukan. Keberadaan anak autistik di kelas khusus bisa sebagian waktu atau sepanjang hari tergantung kemampuan anak.

4. Sekolah Khusus Autis
Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi anak autistik terutama yang tidak memungkinkan dapat mengikuti pendidikan di sekolah reguler. Anak di sekolah ini sangat sulit untuk dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi sekeliling mereka. Pendidikan di sekolah difokuskan pada program fungsional seperti bina diri, bakat, dan minat yang sesuai dengan potensi mereka.

5. Program Sekolah di Rumah
Program ini diperuntukkan bagi anak autistik yang tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya. Anak-anak autistik yang non verbal, retardasi mental atau mengalami gangguan serius motorik dan auditorinya dapat mengikuti program sekolah di rumah. Program dilaksanakan di rumah dengan mendatangkan guru pembimbing atau terapis atas kerjasama sekolah, orangtua dan masyarakat.

6. Panti (griya) Rehabilitasi Autis.
Anak autistik yang kemampuannya sangat rendah, gangguannya sangat parah dapat mengikuti program di panti (griya) rehabilitasi autistik. Program dipanti rehabilitasi lebih terfokus pada pengembangan:(1) Pengenalan diri(2) Sensori motor dan persepsi(3) Motorik kasar dan halus(4) Kemampuan berbahasa dan komunikasi(5) Bina diri, kemampuan sosial(6) Ketrampilan kerja terbatas sesuai minat, bakat dan potensinya.
Dari beberapa model layanan pendidikan di atas yang sudah eksis di lapangan adalah Kelas transisi, sekolah khusus autistik dan panti rehabilitasi.

TERAPI DAN EDUKASI ANAK KHUSUS

Dengan semakin banyaknya kasus yang mengalami hambatan dalam wicara dan komunikasi maka kami memberikan informasi sebagai berikut dan semoga dapat membantu para orang tua dalam penentuan terapi pada anak tercinta kita

Terapis Wicara
Terapis Wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau ganguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak. Terapis Wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi; dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus.
Ganguan Komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders (ASD):Bersifat: (1) Verbal; (2) Non-Verbal; (3) Kombinasi.
Area bantuan dan Terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara:
Untuk Organ Bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, makaTerapis Wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan Oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.
Untuk Artikulasi atau Pengucapan:Artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena karena adanya gangguan, Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation). Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/r; omission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apu; distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular.
Untuk Bahasa: Aktifitas-aktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah:1. Phonology (bahasa bunyi);2. Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata;3. Morphology (perubahan pada kata),4. Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa;5. Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks yang lebih luas),6. Metalinguistics (Bagaimana cara bekerja nya suatu Bahasa) dan;7. Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).
Suara: Gangguan pada suara adalah Penyimpangandari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpangan-penyimpangan lainnya dari atribut-atribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin, atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.
Pendengaran: Bila keadaan diikut sertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan Terapi yang dapat diberikan: (1) Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait; (2) Terapi; Penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi;
PERAN KHUSUS dari Terapi wicara adalah mengajarkan suatu cara untuk ber KOMUNIKASI:
Berbicara:Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional. (Termasuk bahasa reseptif/ ekspresif – kata benda, kata kerja, kemampuan memulai pembicaraan, dll).
Penggunaan Alat Bantu (Augmentative Communication): Gambar atau symbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa; (1) : penggunaan Alat Bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal); (2) Alat Bantu itu sendiri sebagai bahasa bagi yang memang NON-Verbal.

FLOOR TIME


Untuk orang tua ISTIMEWA , ini adalah salah satu metode yang dapat membantu anak-anak ISTIMEWA kita
Floor time yang secara harafiah diterjemahkan sebagai 'waktu di lantai' diperkenalkan oleh Stanley I. Greenspan dan Serena Wieder, sebagai pendekatan interaktif yang berlandaskan kekuatan relasi dan struktur keluarga; dan mempergunakan relasi yang sistematik untuk membantu anak melewati tahapanperkembangan emosi

Prinsip utama floor time adalah mencoba memanfaatkan setiap kesempatan yang muncul untuk berinteraksi dengan cara yang disesuaikan dengan tahap perkembangan emosinya. Interaksi tersebut diharapkan bermula dari inisiatif anak, anak dianggap sebagai pemimpin dan kita mengikuti minatnya

Tujuan Utama Floor Time
Seperti dijelaskan sebelumnya, 6 tahapan perkembangan emosi harus dilalui seorang anak untuk mencapai kemampuan komunikasi, berpikir dan membentuk konsep diri. Tujuan utama floor time adalah tercapainya keenam hal tersebut, tetapi karena dari keenamnya ada beberapa hal yang secara alamiah saling beririsan, tujuan utama floortime adalah:
1. mendukung tercapainya atensi mutual dan keintiman/ keterlibatan dan mempertahankannya selama mungkin. Saat anak belajar tetap tenang saat mengeksplorasi dunianya, ia juga akan mengembangkan minat terhadap anda sebagai orang terpenting dalam dunianya. Tujuan kita adalah membantu anak tetap terlibat dengan kita dan menikmati kehadiran kita. (1-2)
2. membantu anak belajar membuka dan menutup siklus komunikasi, dimulai dari yang bersifat gestural dan lama kelamaan berkembang menjadi lebih kompleks, mengerti dan mengekspresikan keinginan, harapan, perasaan, dan kemudian komunikasi yang bersifat problem solving. (3-4)
3. mendukung pengekspresian dan p&nggunaan perasaan dan ide-ide baik melalui kata-kata maupun bermain pura-pura. Tujuan kita adalah mengembangkan drama dan bermain pura-pura sebagai sarana (5)
4. membantu anak mengkaitkan ide dan perasaan sehingga mencapai pemahaman tentang dunia yang logis dan saling terkait. la belajar berpikir logis (6)

Strategi Dasar dan Kiat Praktis

Cobalah bergabung dengan aktifitas yang dilakukan anak, sesederhana apapun aktifitas yang dimulainya. Hal ini lebih baik daripada mencoba memperkenalkan ide-ide baru kita dan memotong/menghentikan minatnya.Namun bila anak tidak memulai, baru kita melontarkan ide aktifitas yang sesuai dengan tingkatan dan minatnya.
Sedapat mungkin libatkan dalam aktifitas harian, oleh dan bersama siapapun anggota keluarga, jangan biarkan ia terlalu lama sendirian dan terserap dalam dunianya.
Ciptakan lingkungan yang merangsang dan memancing anak lebih eksploratif, letakkan mainan-mainan dan benda-benda yang menarik di mana-mana, ajaklah anak mengeksplorasinya bersama.
Berilah 'masalah', sesuatu yang tidak seperti biasanya, tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan rutinitasnya. Misalnya beri rintangan bila ia ingin mengambil sesuatu, sengaja memberikan mainan atau makanan yang salah/tidak sesuai keinginannya, perkenalkan sesuatu yang baru, beri 'kejutan' di sela-sela rutinitasnya.
Anggaplah semua tingkah laku anak bertujuan dan bermakna. Berikan respon yang beragam untuk memberikan makna baru seolah-olah ia memang melakukan hal tersebut. Misalnya ia membuang/melempar mainan, tangkaplah dengan ekspresif seolah-olah ia memang mengajak anda bermain lempar-tangkap.
Bantulah apa yang anak ingin lakukan, tidak sepenuhnya, tetapi buatlah menjadi aktifitas bersama dimana anak tetap terlibat. Berilah contoh bagaimana melakukannya, tetapi biarkan anak mencoba menirukannya sendiri. Jadilah lebih 'gestural' (atraktif dalam bahasa tubuh) dan lebih interaktif, tetapi kurang koperatif (menuruti dengan segera).
Berikan perhatian dan respon p.ada apapun yang dimulai atau ditirukan oleh anak.Bergabunglah dalam permainan 'perseveratif-nya, tetapi buatlah menjadi lebih bermakna, lebih bervariasi dan lebih interaktif. Bila interaksi sudah lebih baik, cobalah sedikit-sedikit mengubahnya. Misalnya anak berlari bolakbalik, halangi jalannya dan tangkap serta peluklah ia, sehingga terjadi interaksi. Tidak perlu melarang anak melakukan 'tingkah laku stereotipik'-nya.
Jangan menganggap kata 'tidak' yang diucapkannya, atau penghindarannya sebagai penolakan. Bila anak mengabaikan, cobalah untuk 'mengganggunya' secara main-main (play full).
Berusahalah untuk lebih ekspresif, baik dalam mimik wajah, intonasi suara maupun bahasa tubuh. Terutama untuk memberikan penekanan emosi terhadap apa yang dikatakan atau dilakukan.
Berusaha menarik perhatian anak dengan ucapan-ucapan pendek seperti "oh-oh", "wah", "aduh".
Bahasakan semua kegiatan anak dan kegiatan kita, semua hal yang sedang diperhatikan dan dilihatnya. Pergunakan kata-kata pendek dan berikan jeda supaya memberinya kesempatan bereaksi bila ia mau, sekaligus memberi kesempatan kita mengamati reaksi anak.
Sedapat mungkin posisikan diri di hadapan anak, mata sejajar dan 'carilah' tatapan matanya, tanpa memaksa anak menatap mata kita. Kontak mata bisa dipancing dengan selalu memegang sesuatu yang diminatinya (makanan, mainan, benda lain) di antara mata kita dan matanya, memanfaatkan cermin, memanggil namanya atau menutupkan selendang tipis di atas kepalanya dan kepala kita sekaligus.
Lakukan permainan sensori-motor seperti menggelitik, melempar, mengayun, bergulat, dll untuk memancing reaksi, tetapi ingatlah karakteristik SI anak yang sangat spesifik. Misalnya jangan gelitiki anak yang sangat sensitif terhadap rangsang raba, atau ayunkan anak yang sangat sensitif terhadap rangsang vestibular. Bermain ciluk ba, kucing-kucingan dan permainan interaktif lain.
Pergunakan mainan yang bersifat sensorik seperti bunyi-bunyian, bulu-bulu, baling-baling, cahaya, dll Juga mainan yang memperkenalkan 'sebabakibat' misalnya bila dipencet bergetar, bila ditiup berputar.
Menyanyilah sambil mendudukkan anak di pangkuan secara berhadapan, berhentilah di tengah-tengah lagu supaya memancing anak bereaksi dan meminta kita meneruskan, atau siapa tahu ia akan melanjutkan nyanyian kita.
Lakukan apapun untuk memperpanjang interaksi; berpura-pura bodoh, pura pura salah, menginterupsi aktifitasnya. Jangan berikan segera/terlalu cepat apa yang diinginkannya, walaupun anda sudah tahu, pancinglah terjadinya 'negosiasi' yang menyenangkan/bermain-main, jangan sampai anak menjadi benar-benar marah atau kesal.
Jangan mengalihkan subjek ataupun memutus interaksi yang dimulai dan sedang berlangsung.Pastikan kita maupun anak memberikan respon yang sesuai dengan cara menutup siklus komunikasi (aksi-reaksi).
Selalu beritahu arah dan tujuan kegiatan, ingatlah bahwa mereka masih sulit memprediksi apa yang akan terjadi dan cenderung tidak nyaman dalam suasana yang tidak pasti.Buka pintu menuju permainan pura-pura/simbolik, dengan memulai dari pengalaman nyata sehari-hari. Beresponlah terhadap keinginan nyatanya dengan aksi pura-pura.Konsisten dan konsekuenlah, terutama dengan 'peraturan', 'negosiasi' dan hadiah/hukuman.
Cobalah untuk menerima kemarahan, protes dan kekesalan anak. Jangan menghindari/ mengalihkan atau membiarkan anak mengganti subjek untuk menghindari situasi yang tidak menyenangkan. Biarkan ia mengekspresikan rasa marah/kesalnya, tetapi tunjukkan sikap mengerti dan berikan stimulasi SI yang paling sesuai untuk menenangkannya. Setelah. reda coba 'bahas' situasi itu sedapat mungkin dengan cara yang bisa dimengertinya.
Bantulah anak menghadapi kecemasannya (perpisahan, kekecewaan, agresi, ketakutan, kehilangan, dll) dengan menggunakan stimulasi SI, bahasa tubuh, intonasi lembut dan penyelesaian masalah.
Bila ia sudah sampai pada pemahaman bermain pura-pura, gunakan bermain pura-pura untuk bereksperimen dengan kemarahan, agresi, ketakutannya sehingga ia bisa belajar mencari jalan keluar yang lebih efektif, proporsional dan bisa diterima.

Daftar Pustaka:

Stanley I Greenspan dan Serena Wieder (1998): The Child with Special Needs,Cambridge, Massachusetts, Perseus Publishing.

KEBIJAKAN KEGIATAN Prioritas Direktorat Pendidikan Luar Biasa

Program Uji Coba Pendidikan InklusiPendidikan Inklusi adalah kebersamaan untuk memperoleh pelayanan pendidikandalam satu kelompok secara utuh bagi seluruh anak berkebutuhan khusus usiasekolah, mulai dari jenjang TK, SD, SLTP sampai dengan SMU� bagi anak berkebutuhan khusus untuk bersosialisasi dan berintegrasidengan anak sebayanya di sekolah reguler.� Sebagai solusi terhadap kendala sulitnya anak berkebutuhan khususuntuk mendapatkan pelayanan pendidikan secara utuh di desa-desa dan daerahterpencil� Desiminasi program inklusi yang telah dilaksanakan antara lain di SLBNegeri Kabupaten Gunung Kidul, SLB Pembina Tk Propinsi di Lawang, SLB NegeriBandung, dan Sekolah-sekolah terpadu di DKI Jakarta, NTB dsb.Penanganan anak autismePenanganan secara dini bagi anak yang mengalami hambatan dalamberkomunikasi, bersosialisasi, sensorik, perilaku, dan emosi untukmendapatkan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.� Menggali dan mengembangkan kemampuan-kemampuan tenaga ahli (dokterumum, dokter ahli, psikolog) melalui instansi terkait melalui seminarlokakarya layanan pendidikan untuk penyandang autisme.� Peningkatan SDM dengan memasukkan kurikulum mengenai pendidikan untukpenyandang autisme pada pendidikan guru dan guru luar biasa (terutama guruTK dan SD sebagai saringan pertama) terkait.� Menyusun satu model layanan pendidikan bagi anak autis.� Menyusun pedoman modul layanan pendidikan bagi anak autis.� Memotivasi yayasan penyelenggara pendidikan Autis dan penyelenggaraSLB dengan memberikan bantuan berupa block grant.KEBIJAKAN PELAYANAN Pendidikan Bagi Anak AutisI. PENGERTIANIstilah Autisme berasal dari kata "Autos" yang berarti diri sendiri "Isme"yang berarti suatu aliran. Berarti suatu paham yang tertarik hanya padadunianya sendiri.Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkutkomunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampaksebelum anak berusia 3 tahun. Bahkan pada autistik infantil gejalanya sudahada sejak lahir.Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental,sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untukbidang-bidang tertentu (savant)Anak penyandang autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang :1. Komunikasi2. Interaksi sosial3. Gangguan sensoris4. Pola bermain5. Perilaku6. EmosiApa Penyebab Autistik?Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika memegang perananpenting pada terjadinya autistik. Bayi kembar satu telur akan mengalamigangguan autistik yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga ditemukanbeberapa anak dalam satu keluarga atau dalam satu keluarga besar mengalamigangguan yang sama.Selain itu pengaruh virus seperti rubella, toxo, herpes; jamur; nutrisi yangburuk; perdarahan; keracunan makanan, dsb pada kehamilan dapat menghambatpertumbuhan sel otak yang dapat menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandungterganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan interaksi.Akhir-akhir ini dari penelitian terungkap juga hubungan antara gangguanpencernaan dan gejala autistik. Ternyata lebih dari 60 % penyandang autistikini mempunyai sistem pencernaan yang kurang sempurna. Makanan tersebutberupa susu sapi (casein) dan tepung terigu (gluten) yang tidak tercernadengan sempurna. Protein dari kedua makanan ini tidak semua berubah menjadiasam amino tapi juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai pendek asam aminoyang seharusnya dibuang lewat urine. Ternyata pada penyandang autistik,peptida ini diserap kembali oleh tubuh, masuk kedalam aliran darah, masuk keotak dan dirubah oleh reseptor opioid menjadi morphin yaitu casomorphin dangliadorphin, yang mempunyai efek merusak sel-sel otak dan membuat fungsiotak terganggu. Fungsi otak yang terkena biasanya adalah fungsi kognitif,reseptif, atensi dan perilaku.II. KARAKTERISTIKAnak autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang:1. Komunikasi:- Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.- Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian sirna,- Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.- Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain- Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi- Senang meniru atau membeo (echolalia)- Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya- Sebagian dari anak ini tidak berbicara ( non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa- Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu2. Interaksi sosial:- Penyandang autistik lebih suka menyendiri- Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan- tidak tertarik untuk bermain bersama teman- Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh3. Gangguan sensoris:- sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk- bila mendengar suara keras langsung menutup telinga- senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda- tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut4. Pola bermain:- Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya,- Tidak suka bermain dengan anak sebayanya,- tidak kreatif, tidak imajinatif- tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya di putar-putar- senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda,- dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana5. Perilaku:- dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif)- Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang,mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata kepesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang- tidak suka pada perubahan- dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong6. Emosi:- sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan- temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya- kadang suka menyerang dan merusak- Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri- tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lainIII. IDENTIFIKASI 1. Diagnosa AutismeWaktu adalah bagian terpenting. Jika anak memperlihatkan beberapa gejaladiatas segera hubungi psikolog klinis, dokter ahli perkembangan, anak,psikiater anak atau neurologis khusus autistik dan gangguan perkembanganyang akan membuat suatu assesstment/pengkajian yang diikuti dengan penegakandiagnosa. Jika terdiagnosa dini, maka anak autistik dapat ditangani segeramelalui terapi-terapi terstruktur dan terpadu. Dengan demikian lebih terbukapeluang perubahan ke arah perilaku normalIV. BAGAIMANA PENANGANAN LAYANAN PENDIDIKANNYALayanan Pendidikan Awal:A. Program Intervensi Dini:1. Discrete Trial Training dari Lovaas: Merupakan produk dari Lovaas dkkpada Young Autistikm Project di UCLA USA, walaupun kontroversial, namunmempunyai peran dalam pembelajaran dan hasil yang optimal pada anak-anakpenyandang autistik. Program Lovaas (Program DTT) didasari oleh modelperilaku kondisioning operant (Operant Conditioning) yang merupakan faktorutama dari program intensive DTT. Pengertian dari Applied BehavioralAnalysis (ABA), implementasi dan evaluasi dari berbagai prinsip dan tehnikyang membentuk teori pembelajaran perilaku (behavioral learning), adalahsuatu hal yang penting dalam memahami teori perilaku Lovaas ini.Teori pembelajaran perilaku (behavioral learning) didasari oleh 3 hal:� Perilaku secara konseptual meliputi 3 term penting yaituantecedents/perilaku yang lalu, perilaku, dan konsekwensi.� Stimulus antecendent dan konsekwensi sebelumnya akan berefek padareaksi perilaku yang muncul.� Efektifitas pengajaran berkaitan dengan kontrol terhadapantecendent dan konsekwensi. Yaitu dengan memberikan reinforcement yangpositif sebagai kunci dalam merubah perilaku. Sehingga perilaku yang baikdapat terus dilakukan, sedangkan perilaku buruk dihilangkan (melalui timeout, hukuman, atau dengan kata 'tidak'). Dalam teknisnya, DTT terdiri dari 4bagian yaitu:- stimuli dari guru agar anak berespons- respon anak- konsekwensi- berhenti sejenak,dilanjutkan dengan perintah selanjutnya2. Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Program for preschooler and parents)Intervensi LEAP menggabungkan Developmentally Appropriate Practice (DAP) dantehnik ABA dalam sebuah program inklusi dimana beberapa teori pembelajaranyang berbeda digabungkan untuk membentuk sebuah kerangka konsep. Meskipunmetoda Ini menerima berbagai kelebihan dan kekurangan pada anak-anakpenyandang autistik, titik berat utama dari teori dan implementasi praktisyang mendasari program ini adalah perkembangan sosial anak. Oleh sebab itu,dalam penerapan ini teori autistik memusatkan diri pada central socialdeficit. Melalui beragamnya pengaruh teoritis yang diperolehnya, model LEAPmenggunakan teknik pengajaran reinforcement dan kontrol stimulus. Prinsipyang mendasarinya adalah :1. Semua anak mendapat keuntungan dari lingkungan yang terpadu2. Anak penyandang autistik semakin membaik jika intervensi berlangsung konsisten baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat3. Keberhasilan semakin besar jika orang tua dan guru bekerja bersama-sama4. Anak penyandang autistik bisa saling belajar dari teman-teman sebayamereka5. Intervensi haruslah terancang, sistematis, individual6. Anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dan yang normal akan mendapat keuntungan dari kegiatan yang mencerminkan DAP.Kerangka konsep DAP berdasarkan teori perilaku, prinsip DAP dan inklusi.3. Floor Time:Pendekatan Floor Time berdasarkan pada teori perkembangan interaktifyang mengatakan bahwa perkembangan ketrampilan kognitif dalam 4 atau 5 tahunpertama kehidupan didasarkan pada emosi dan relationship (Greenspan & Wieder1997a). Jadi hubungan pengaruh dan interaksi merupakan komponen utama dalamteori dan praktek model ini.Greenspan dkk mengembangkan suatu pendekatan perkembangan terintegrasi untukintervensi anak yang mempunyai kesulitan besar (severe) dalam berhubungan(relationship) dan berkomunikasi, dan tehnik intervensi interaktif yangsistematik inilah yang disebut Floor Time. Kerangka konsep program inidiantaranya:- pentingnya relationship- enam acuan (milestone) sosial yang spesifik- teori hipotetikal tentang autistik4. TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication Handicapped Children)Divisi TEACCH merupakan program nasional di North Carolina USA, yangmelayani anak penyandang autistik, dan diakui secara internasional sebagaisistem pelayanan yang tidak terikat/bebas. Dibandingkan dengan ketigaprogram yang telah dibicarakan, program TEACCH menyediakan pelayanan yangberkesinambungan untuk individu, keluarga dan lembaga pelayanan untuk anakpenyandang autistik. Penanganan dalam program ini termasuk diagnosa,terapi/treatment, konsultasi, kerjasama dengan masyarakat sekitar, tunjanganhidup dan tenaga kerja, dan berbagai pelayanan lainnya untuk memenuhikebutuhan keluarga yang spesifik. Para terapis dalam program TEACCH harusmemiliki pengetahuan dalam berbagai bidang termasuk, speech pathology,lembaga kemasyarakatan, intervensi dini, pendidikan luar biasa danpsikologi. Konsep pembelajaran dari model TEACCh berdasarkan tingkah laku,perkembangan dan dari sudut pandang teori ekologi, yang berhubungan eratdengan teori dasar autisme.B. Program Terapi Penunjang:Beberapa jenis terapi bagi anak autistik, antara lain:1. Terapi Wicara: membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga membantu anak berbicara lebih baik2. Terapi Okupasi: untuk melatih motorik halus anak3. Terapi Bermain: mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy): dengan pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.5. Terapi melalui makanan (diet therapy): untuk anak-anak dengan masalah alergi makanan tertentu6. Sensory Integration Therapy: untuk anak-anak yang mengalami gangguan pada sensorinya7. Auditory Integration Therapy: agar pendengaran anak lebih sempurna8. Biomedical treatment/therapy: penanganan biomedis yang paling mutakhir, melalui perbaikan kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphin, alergen, dsb)C. Layanan Pendidikan LanjutanPada anak autistik yang telah diterapi dengan baik dan memperlihatkan keberhasilan yang menggembirakan, anak tersebut dapat dikatakan "sembuh" dari gejala autistiknya.Ini terlihat bila anak tersebut sudah dapat mengendalikan perilakunyasehingga tampak berperilaku normal, berkomunikasi dan berbicara normal,serta mempunyai wawasan akademik yang cukup sesuai anak seusianya.Pada saat ini anak sebaiknya mulai diperkenalkan untuk masuk kedalamkelompok anak-anak normal, sehingga ia (yang sangat bagus dalammeniru/imitating) dapat mempunyai figur/role model anak normal dan menirutingkah laku anak normal seusianya.1. Kelas Terpadu sebagai kelas transisi:Kelas ini ditujukan untuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadudan terrstruktur, dan merupakan kelas persiapan dan pengenalan akanpengajaran dengan kurikulum sekolah biasa, tetapi melalui tata carapengajaran untuk anak autistik ( kelas kecil dengan jumlah guru besar,dengan alat visual/gambar/kartu, instruksi yang jelas, padat dan konsisten,dsb).Tujuan kelas terpadu adalah:1. Membantu anak dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler2.Belajar secara intensif pelajaran yang tertinggal di kelas reguler, sehinggadapat mengejar ketinggalan dari teman-teman sekelasnyaPrasyarat:1. Diperlukan guru SD dan terapis sebagai pendamping, sesuai dengankeperluan anak didik (terapis perilaku, terapis bicara, terapis okupasi dsb)2. Kurikulum masing-masing anak dibuat melalui pengkajian oleh satu teamdari berbagai bidang ilmu ( psikolog, pedagogi, speech patologist, terapis, guru dan orang tua/relawan)3. Kelas ini berada dalam satu lingkungan sekolah reguler untukmemudahkan proses transisi dilakukan (mis: mulai latihan bergabung dengankelas reguler pada saat olah raga atau istirahat atau prakarya dsb)2. Program inklusi (mainstreaming)Program ini dapat berhasil bila ada:1. Keterbukaan dari sekolah umum2. Test masuk tidak didasari hanya oleh test IQ untuk anak normal3. Peningkatan SDM/guru terkait4. Proses shadowing/dapat dilaksanakan Guru Pembimbing Khusus (GPK)5. Idealnya anak berhak memilih pelajaran yang ia mampu saja (MempunyaiIEP/Program Pendidikan Individu sesuai dengan kemampuannya)6. Anak dapat "tamat" (bukan lulus) dari sekolahnya karena telah selesaimelewati pendidikan di kelasnya bersama-sama teman sekelasnya/peers.7. Tersedianya tempat khusus (special unit) bila anak memerlukan terapi 1:1 di sekolah umumAnak autistik mempunyai cara berpikir yang berbeda dan kemampuan yang tidakmerata disemua bidang, misalnya pintar matematika tapi tidak suka menulis dsb.Ciri khas pada anak autistik:1. Anak tidak dapat mengikuti jalan pikiran orang lain2. Anak tidak mempunyai empati dan tidak tahu apa reaksi orang lain atas perbuatannya.3. Pemahaman anak sangat kurang, sehingga apa yang ia baca sukardipahami. Misalnya dalam bercerita kembali dan soal berhitung yang menggunakan kalimat4. Anak kadang mempunyai daya ingat yang sangat kuat, seperti perkalian, kalender, dan lagu-lagu5. Anak lebih mudah belajar memahami lewat gambar-gambar (visual-learners)6. Anak belum dapat bersosialisasi dengan teman sekelasnya, seperti sukar bekerjasama dalam kelompok, bermain peran dsb.7. Anak sukar mengekspresikan perasaannya, seperti mudah frustasi bila tidak dimengerti dan dapat menimbulkan tantrumKesulitan-kesulitan anak pada bulan-bulan pertama antara lain:1. Kesulitan berkonsentrasi2. Anak belum dapat mengikuti instruksi guru3. Perilaku anak masih sulit diatur4. Anak berbicara/mengoceh atau tertawa sendiri pada saat belajar5. Timbul tantrum bila tidak mampu mengerjakan tugas6. Komunikasi belum lancar dan tidak runtut dalam bercerita7. Pemahaman akan materi sangat kurang8. Belum mau bermain dan berkerjasama dengan teman-temannyaPada bulan-bulan pertama ini sebaiknya anak autistik didampingi oleh seorangterapis yang berfungsi sebagai shadow/guru pembimbing khusus (GPK). Tugasseorang shadow guru pembimbing khusus (GPK) adalah:1. Menjembatani instruksi antara guru dan anak2. Mengendalikan perilaku anak dikelas3. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi4. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman-temannya5. Menjadi media informasi antara guru dan orangtua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya.Guru pembimbing khusus adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalammendampingi anak penyandang autistik pada saat diperlukan, sehingga prosespengajaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan. Guru kelas tetap mempunyaiwewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananyaperaturan yang berlaku.3. Sekolah Khusus:Pada kenyataannya dari kelas Terpadu terevaluasi bahwa tidak semua anakautistik dapat transisi ke sekolah reguler. Anak-anak ini sangat sulit untukdapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi di sekeliling mereka. Beberapaanak memperlihatkan potensi yang sangat baik dalam bidang tertentu misalnyaolah raga, musik, melukis, komputer, matematika, ketrampilan dsb. Anak-anakini sebaiknya dimasukkan ke dalam Kelas khusus, sehingga potensi merekadapat dikembangkan secara maksimal.Contoh sekolah khusus: Sekolah ketrampilan, Sekolah pengembangan olahraga,Sekolah Musik, Sekolah seni lukis, Sekolah Ketrampilan untuk usaha kecil,Sekolah komputer, dlsb.4. Program sekolah dirumah (Homeschooling Program):Adapula anak autistik yang bahkan tidak mampu ikut serta dalam Kelas Khususkarena keterbatasannya, misalnya anak non verbal, retardasi mental, masalahmotorik dan auditory dsb. Anak ini sebaiknya diberi kesempatan ikut sertadalam Program Sekolah Dirumah (Homeschooling Program). Melalui bimbinganpara guru/terapis serta kerjasama yang baik dengan orangtua dan orang-orangdisekitarnya, dapat dikembangkan potensi/strength anak. Kerjasama guru danorangtua ini merupakan cara terbaik untuk men-generalisasi program danmembentuk hubungan yang positif antara keluarga dan masyarakat. Bilamemungkinkan, dengan dukungan dan kerjasama antara guru sekolah dan terapisdi rumah anak-anak ini dapat diberi kesempatan untuk mendapat persamaanpendidikan yang setara dengan sekolah reguler/SLB untuk bidang yang iakuasai. Dilain pihak, perlu dukungan yang memadai untuk keluarga danmasyarakat sekitarnya untuk dapat menghadapi kehidupan bersama seorangautistik.IV. PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AUTISTIKA. Pelaksanaan Indentifikasi anak Autistik harus mengacu pada :1) Rujukan untuk TerapiRujukan diperoleh dari:a. Guru TK/Playgroup/TPAb. Orang tuac. Tenaga Ahli2) AsesmentAsesment dilakukan oleh satu team yang terdiri dari berbagai disiplin ilmuseperti :a. Dokterb. Psikologc. Speech patologisd. Terapise. Guruf. Orang tuag. Relawan1. Asesment didasari oleh :a. Pedoman Kurikulum TK dan SD tahun 1994b. Pedoman Observasi untuk anak autistikc. Behavioral intervention manual dari Chatherine Mauriced. Observasi klinise. Masukan dari orang tuaf. Rujukan dari guru, orang tua, dan tenaga ahli2. Hal-hal yang dikaji :a. Kognitifb. Motorik kasarc. Motorik halusd. Bahasa dan komunikasie. Interaksi sosialf. Bantu diri (self help)g. Penglihatanh. Pendengarani. Nutrisij. Otot-otot mulut3) IEP/Individual Educational Plan and ProgramIEP didasari oleh kebutuhan dan kemampuan anak untuk mengejarketertinggalannya dan mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki.4) Persetujuan Orang TuaOrang tua harus memiliki komitmen terhadap IEP ikut serta dalamkelompok kerja (Team work) yang terlibat dalam pendidikan anak5) EvaluasiEvaluasi pendidikan untuk anak autistik meliputi :a. Evaluasi proses : untuk penilaian guru terhadap anakdalam setiap hari,b. Evaluasi bulanan : laporan dari orang tua kepada guru,atau sebaliknya,c. Evaluasi catur wulan : laporan untuk orang tua berbentukdeskripsi kemampuan anak dengan penilaian kualitatif.B.

PENGEMBANGAN KURIKULUM

Anak autistik memiliki kemampuan yang berdeferensiasi, serta prosesperkembangan dan tingkat pencapaian programpun juga tidak sama antara satudengan yang lainnya. Oleh karena itu kurikulum dapat dipilih, dimodifikasidan dikembangkan oleh guru/pelatih/terapis/pembimbing, dengan bertitik tolakpada kebutuhan masing-masing anak berdasarkan hasil identifikasi. Pemilihandan modifikasi kurikulum juga disesuaikan dengan tingkat perkembangankemampuan anak, dan ketidakmampuannya, usia anak, serta memperhatikan sumberdaya/lingkungan yang ada.Pelayanan pendidikan bagi anak autistik akan lebih baik apabila dimulaisejak dini (intervensi dini). Sehingga untuk mengembangkan kurikulum mengacupada :1. Program Pengembangan kelompok bermain (usia 2-3 tahun)2. Kurikulum Taman Kanak-kanak (usia 4-5- tahun)3. Kurikulum Sekolah Dasar4. Kurikulum SLB Tuna Rungu5. Kurikulum SLB Tunarungu dan TunagrahitaPenyusunan program layanan pendidikan dan pengajaran diambil dari kurikulumtersebut, dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan (kebutuhan)anak, dengan modifikasi. Kurikulum bagi anak autistik dititik beratkan padapengembangan kemampuan dasar, yaitu :1. Kemampuan dasar kognitif2. Kemampuan dasar bahasa/Komunikasi3. Kemampuan dasar sensomotorik4. Kemampuan dasar bina diri, dan5. Sosialisasi.Apabila kemampuan dasar tersebut dapat dicapai oleh anak dengan mengacu padakemampuan anak yang sebaya dengan usia biologi/ kalendernya, maka kurikulumdapat ditingkatkan pada kemampuan pra akademik dan kemampuan akademik,meliputi kemampuan : membaca, menulis, dan matematika (berhitung).C. KETENAGAANKetenagaan dalam penyelenggaraan pendidikan autistik meliputi beberapakomponen yang sangat terkait satu dengan yang lain. Yang akan kita jelaskandi bawah ini :1) Tenaga KependidikanTenaga kependidikan yang dimaksud disini, bisa guru atau terapis.Tenaga kependidikan untuk anak autistik ini idealnya dari disiplinilmu yang sesuai seperti PGTK, PGSD dan Sarjana PLB atau Sarjana Psikolog.Bukan berarti dari disiplin ilmu yang lain tidak mampu dalam menangani anakautistik. Tetapi harus ada pelatihan dan bimbingan. Karena yang palingdiperlukan dalam diri seorang pendidik terutama dalam penanganan terhadapanak autistik adalah:1. Mau menerima dan melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan sepenuhhati dan disertai rasa kasih sayang.2. Mau banyak belajar untuk memperbanyak pengetahuan dan wawasan.Tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnyaterhadap anak diperlukan kreativitas yang tinggi. Karena perlu diketahuibahwa penanganan anak autistik tidak bisa disamakan antara anak yang satudengan anak yang lain.2) Tenaga Non kependidikan para akademisi/profesional terkait.Selain tenaga kependidikan dalam penanganan terhadap anak autistikyang sangat berperan adalah :a. Tenaga Terapi PerilakuPerilaku menjadi dasar bagi terapi selanjutnyab. Tenaga terapi wicara :Karena seperti kita ketahui banyak anak autistik yang juga mengalamigangguan dalam berbahasa atau berkomunikasi.c. Tenaga Terapi Sensori Motorik Integrasi :Contoh dalam materi penjaskes SLB Tunagrahitad. Yang juga sangat menunjang dalam penyelenggaraan pendidikan untuk anakautistik adalah- Orang Tua- Psikolog- Psikiater- Dokter- Relawan- Dan tanaga ahli yang lain seperti : ahli gizi, dlsb.3) Tenaga administrasiTanaga administrasi juga sangat diperlukan untuk membantupenyelenggaraan pendidikan anak autistik. Adapun tujuannya untuk membantumemperlancar tugas-tugas dari penyelenggara pendidikan anak autistik.4) Tenaga Penyelenggara (Pengurus Yayasan)Pengurus yayasan atau tenaga penyelenggara adalah orang yangmendirikan pendidikan bagi anak autistik. Sekaligus bertugas sebagaifasilitator bagi setiap keperluan pendidikan yang didirikan dan bertanggungjawab terhadap perkembangan sekolah maupun tenaga pengelola yang ada sekolahtersebut.5) Tenaga Pengelola (Pemimpin Sekolah)Tenaga pengelola merupakan jembatan antara orang tua, lingkungan danpihak penyelenggara serta peningkatan sumber daya manusia bagi guru atauterapisnya.D. SARANA DAN PRASARANASarana dan prasarana ini disesuaikan dengan tahapan usia sekolah sebagaiberikut :I. Usia Pendidikan Prasekolah- Alat Peraga : pengenalan warna, bentuk, huruf dan angka,benda-benda sekitar, buah, binatang, kendaraan.- Alat bantu komunikasi : berupa gambar-gambar yang mewujudkan tujuankomunikasi dari anak.- Alat bantu pengembangan motorik halus : cara memegang pensil,menggunting, mewarna, dan sebagainya- Alat bantu pengembangan motorik kasar : bola, tali, dlsb.- Kurikulum Tanan Kanak-kanak- Terapi wicara (terapi dan alatnya) baik manual atau elektronik- Terapi sensori motorik integrasi (ayunan, lorong, balok titian dansebagainya)II. Usia Pendidikan Sekolah Dasar- Segala sarana belajar yang ada pada sekolah dasar pada umumnya- Alat peraga konkrit sebagai penunjang sarana belajar- Guru pendamping- Sarana untuk bersosialisasiIII. Usia Pendidikan MenengahPada usia ini jika dimungkinkan anak mengikuti kurikulum sekolahmenengah maka sarana belajar bisa mengikuti sarana yang diperlukan untuksekolah menengah akan tetapi jika anak harus berada pada sekolah khusus,maka sarana yang dibutuhkan harus mengacu pada pengembangan kemampuanfungsional yang ada pada setiap anak autistik.E. PENDANAANPendidikan bagi anak autistik memang memerlukan biaya yang mahal, karenapola pengajaran yang individual (satu anak, satu guru). Oleh karena itudiperlukan peranan masyarakat dan orang tua siswa yang lebih besar.F. MANAJEMENPelayanan pendidikan bagi anak autistik merupakan suatu kegiatan yangterpadu dan juga melibatkan unsur-unsur sebagai berikut :1. Orang tua, merupakan pemegang peran utama dalam penanganan anakautistik karena interaksi anak dengan orang tua lebih besar porsinyadibandingkan dengan di sekolah.2. Tenaga pendidik, dimana yang berhubungan langsung dengan anak didiksehingga dalam memberikan evaluasi yang lebih akurat dan mengoptimalkanpembelajaran.3. Penyelenggara pendidikan, sebagai penanggung jawab kurikulum danpenyedia sarana dan prasarana pendidikan bagi anak autistik maka peran sertamereka mutlak diperlukan guna memberikan tempat pelayanan pendidikan yangmemadai.4. Tenaga profesional (dokter, terapis, psikolog) yang berfungsi untukmendeteksi dan menangani, anak autistik secara berkesinambungan danintegral.5. Lembaga pemerintah sebagai fasilitator, dan juga sekaligus mengawasiprogram pelayanan pendidikan anak autistikDari masing-masing unsur tersebut harus berbentuk suatu jaringan kerjasehingga dapat mengembangkan program-program yang bersifat inovatif secaraberkelanjutan dan mampu memberikan pelayanan pendidikan bagi anak autistik.G. LINGKUNGANLingkungan bagi anak yang manapun, tidak hanya dilaksanakan didalamgedung, tetapi juga diluar gedung. Khusus untuk pendidikan di luar gedung,maka sebaiknya lingkungan difahamkan dulu tentang anak autistik, sepertilingkungan bisa bersikap yang tepat pada anak autistik. Lingkungan yangdimaksud adalah :1. Keluarga tempat dimana anak autistik berada, yaitu Bapak, Ibu, Kakak,Adik, Kakek, Nenek, Pembantu, dlsb.2. Masyarakat sekitar tempat pendidikan3. Masyarakat pemilik sarana integrasi dan sosialisasi bagi anak autistik.4. Masyarakat secara luas sehingga perlu informasi melalui media cetak,elektronik, penyuluhan, seminar, dlsb.H. KEGIATAN BELAJAR MENGAJARKegiatan belajar mengajar merupakan interaksi antara siswa (anak autistik)yang belajar dan guru pembimbing yang mengajar. Dalam upaya membelajarkananak autistik tidak mudah. Guru pembimbing sebagai model untuk anak autistikharus memiliki kepekaan, ketelatenan, kreatif dan konsisten di dalamkegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena anak autistik padaumumnya mengalami kesulitan untuk memahami dan mengerti orang lain. Makaguru pembimbing diharuskan untuk mampu memahami dan mengerti anak autistik.Komponen-komponen yang harus ada dalam kegiatan belajar mengajar adalah :1. Anak didikYakni anak autistik dan anak-anak yang masuk dalam spektrum autistik.2. Guru pembimbingSeorang guru pembimbing anak autistik harus memiliki dedikasi,ketelatenan, keuletan dan kreativitas di dalam membelajarkan anak didiknya.Sehingga guru pembimbing harus memahami prinsip-prinsip pendidikan danpengajaran untuk anak autistik.Prinsip-prinsip pendidikan dan pengajaranPendidikan dan pengajaran anak autistik pada umumnya dilaksanakanberdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:a. TerstrukturPendidikan dan pengajaran bagi anak autistik diterapkan prinsipterstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi pengajarandimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan olehanak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajaryang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah darimateri sebelumnya.Sebagai contoh, untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami maknadari instruksi "Ambil bola merah". Maka materi pertama yang harusdikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata "ambil", "bola". dan"merah". Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkahselanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi "Ambil bola merah" kedalamperbuatan kongkrit. Struktur pendidikan dan pengajaran bagi anak autistikmeliputi :- Struktur waktu- Struktur ruang, dan- Struktur kegiatanb. TerpolaKegiatan anak autistik biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpoladan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai daribangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harusdikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang,dapat dilatih dengan memakai jadwal yang disesuaikan dengan situasi dankondisi lingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitasyang berlaku (menjadi lebih fleksibel). Diharapkan pada akhirnya anak lebihmudah menerima perubahan, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan(adaptif) dan dapat berperilaku secara wajar (sesuai dengan tujuan behaviortherapi).c. TerprogramPrinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yangingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evaluasi. Prinsip ini berkaitanerat dengan prinsip dasar sebelumnya. Sebab dalam program materi pendidikanharus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak,sehingga apabila target program pertama tersebut menjadi dasar targetprogram yang kedua, demikian pula selanjutnya.d. KonsistenDalam pelaksanaan pendidikan dan terapi perilaku bagi anak autistik,prinsip konsistensi mutlak diperlukan. Artinya : apabila anak berperilakupositif memberi respon positif terhadap susatu stimulan (rangsangan), makaguru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan),begitu pula apabila anak berperilaku negatif (Reniforcement) Hal tersebutjuga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda (maintenance) secaratetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai denganperilaku sebelumnya.Konsisten memiliki arti "Tetap", bila diartikan secara bebas konsistenmencakup tetap dalam berbagai hal, ruang, dan waktu. Konsisten bagi gurupembimbing berarti; tetap dalam bersikap, merespon dan memperlakukan anaksesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing individuanak autistik. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalammempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang munculdalam ruang dan waktu yang berbeda. Orang tua pun dituntut konsisten dalampendidikan bagi anaknya, yakni dengan bersikap dan memberikan perlakukanterhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersamaantara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajarandi sekolah dan dirumah.e. KontinyuPendidikan dan pengajaran bagi anak autistik sebenarnya tidak jauhberbeda dengan anak-anak pada umumnya. Maka prinsip pendidikan danpengajaran yang berkesinambungan juga mutlak diperlukan bagi anak autistik.Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran,program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaanpendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untukkegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, therapiperilaku dan pendidikan bagi anak autistik harus dilaksanakan secaraberkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu).3. KurikulumDalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran bagi anak autistiktentunya harus berdasarkan pada kurikulum pendidikan yang berorientasi padakemampuan dan ketidak mampuan anak dengan memperhatikan deferensiasimasing-masing individu.4. Pendekatan dan MetodePendidikan dan pengajaran bagi anak autistik menggunakan Pendekatandan program individual. Sedangkan metode yang digunakan adalah merupakanperpaduan dari metode yang ada, dimana penerapannya disesuaikan kondisi dankemampuan anak serta materi dari pengajaran yang diberikan kepada anak.Metode dalam pengajaran anak autistik adalah metode yang memberikan gambarankongkrit tentang "sesuatu", sehingga anak dapat menangkap pesan, informasidan pengertian tentang "sesuatu" tersebut.5. Sarana Belajar MengajarSarana belajar diperlukan, karena akan membantu kelancaran prosespembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara kongkrit bagianak autistik. Pola pikir anak autistik pada umumnya adalah pola pikirkongkrit. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus kongkrit.Beberapa anak autistik dapat berabstraksi, namun pada awalnya mereka dilatihdengan sarana belajar yang kongkrit.6. EvaluasiUntuk mengukur berhasil atau tidaknya pendidikan dan pengajaran perludilakukan adanya evaluasi (penilaian). Dalam pendidikan dan pengajaran bagianak autistik evaluasi dapat dilakukan dengan cara:1. Evaluasi ProsesEvaluasi Proses ini dilakukan dengan cara seketika pada saat proseskegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau membetulkan perilakumenyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung seketika itu juga. Halini dilakukan oleh pembimbing dengan cara memberi reward atau demonstrasisecara visual dan kongkrit.Di samping itu untuk mengetahui sejauh mana progres yang dicapai anakdapat diketahui dengan cara adanya catatan khusus/buku penghubung.2. Evaluasi BulanEvaluasi ini bertujuan untuk memberikan laporan perkembangan ataupermasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh pembimbing di sekolah.Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan masalah danperkembangan anak antara guru dan orang tua anak autistik guna mendapatkanpemecahan masalah (solusi dan pemecahan masalah), antara lain dengan mencaripenyebab dan latar belakang munculnya masalah serta pemecahan masalah macamapa yang tepat dan cocok untuk anak autistik yang menjadi contoh kasus. Halini dapat dilakukan oleh guru dan orang tua dengan mengadakan diskusibersama atau case conference.3. Evaluasi Catur WulanEvaluasi ini disebut juga dengan evaluasi program yang dimaksudsebagai tolok ukur keberhasilan program secara menyeluruh. Apabila tujuanprogram pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan dapat dikuasai anak,maka kelanjutan program dan kesinambungan program ditingkatkan denganbertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak, sebaliknya apabila programbelum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan pengulangan program (remedial)atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak berhasilan pencapaianprogram.Faktor Penentu Keberhasilan Pendidikan dan Pengajaran bagi Anak Autistik.Tingkat keberhasilan pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran anakautistik dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :1. Berat - ringannya kelainan/gejala2. Usia pada saat diagnosis3. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa4. Tingkat kelebihan (strengths) dan kekurangan (weaknesses) yang dimilikianak5. Kecerdasan/IQ6. Kesehatan dan kestabilan emosi anak7. Terapi yang tepat dan terpadu meliputi guru, kurikulum, metode, saranapendidikan, lingkungan (keluarga, sekolah dan masyarakat).Hambatan Proses Belajar Mengajar dan Solusinya.1. Masalah prilakuMasalah perilaku yang sering muncul yaitu : stimulasi diri danstereotip.Bila perilaku tersebut muncul yang dapat kita lakukan :i. Memberikan Reinforcement.ii. Tidak memberi waktu luang bagi anak untuk asyik dengan diri sendiriiii. Siapkan kegiatan yang menarik dan positifiv. Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak, tidak menyakiti diri.2. Masalah Emosi :Masalah ini menyangkut kondisi emosi yang tidak stabil, misalnya;menangis, berteriak, tertawa tanpa sebab yang jelas, memberontak, mengamuk,destruktif, tantrum dlsb.Cara mengatasinya :1) Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya2) Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang.3) Setelah kondisi emosinya mulai membaik, kegiatan dapat dilanjutkan.3. Masalah Perhatian. (Konsentrasi)Perhatian anak dalam belajar kadang belum dapat bertahan untuk waktuyang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan lain yang lebih menarikbagi anak.Untuk itu maka usaha yang harus diupayakan oleh pembimbing adalah:a. Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap.b. Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi.c. Istirahat sebentar kemudian kegiatan dilanjutkan kembali, dimaksudkanuntuk mengurangi kejenuhan pada anak, misal : dengan menyanyi, bermain,bercanda, dlsb.4. Masalah Kesehatan.Bila kondisi kesehatan siswa kurang baik, maka kegiatan belajarmengajar tidak dapat berjalan secara efektif, namun demikian kegiatanbelajar tetap dapat dilaksanakan, hanya saja dalam pelaksanaannyadisesuaikan dengan kondisi anak.5. Orang TuaUntuk memberikan wawasan pada orang tua, perlu dibentuk PerkumpulanOrang Tua Siswa, sebagai sarana penyebaran berbagi pengalaman sesama sepertiinformasi baru dari informasi internet, buku-buku bahkan jika mungkin tatapmuka dengan tokoh yang berkaitan dalam pendidikan untuk anak autistik atauanak dengan kebutuhan khusus.6. Masalah Sarana BelajarDengan menyediakan materi-materi yang mungkin diperlukan untukkepentingan terapi anak-anaknya misalnya :- Textbook berbahasa Inggris dan Indonesia,- Buku-buku pelajaran siswa,- Kartu-kartu PECS, Compics, Flashcard, dlsb,- Pegs, balok kayu, puzzle dan mainan edukatif lainnya.

Source (Sumber) : Dikdasmen Depdiknas